Tuesday, October 4, 2011

5 Oktober 2011 : kejadiannya dah jadi minggu kemarin, tanggal 27 september papa pulang, dia bilang kepala desanya mo titip minta bliin laptop trus buat dia sendiri mau bli printer  n modem buat di rumahnya jadi anaknya ga usah bolak balik ke warnet, setelah semuanya terbeli sama kekasihku, dia juga nitip mau bli tas yang seperti punyaku hanya warnanya putih, sang penjual tas bilang kl tasnya bisa diambil hari minggu, tapi pas hari minggu ternyata tokonya tutup. dan papa dengan segala kebawelannya ngotot kl dia harus pulang hari senin, sempat kesel jg aku karena ini sampai terucap juga kata-kata " Duh... nyusahin amat.." aku ga tau dia denger atau nga, atau apa yg ada dipikiran dia saat aku mengucapkan kata-kata itu. lalu dengan setengah memaksa aku berkata pada si penjual untuk mengambil tas yang aku pesan hari senin pagi supaya papa bisa lgsg pulang sebelum jam 10, untungnya pada hari seninnya jam 9 pagi tas tersebut sudah ada jadi semua sesuai jadwal.
lalu semalam dia telp aku, dia mau bertanya soal internet yang susah connectnya, dan tanpa dia sadari terucap dari mulutnya kalau laptop dan semua yang kmrn dibeli itu ternyata bukan buat kepala desanya melainkan buat anaknya.. ternyata selama ini feelingku tepat, dan aku sangat kecewa dengan kejadian ini, papa kalau disini selalu berlagak miskin, susah dan bokek, bahkan untuk bli bakso atau rokok tak jarang meminta uang dari aku, kl aku memang banyak uang ga masalah tapi aku juga bokek, penghasilan dari sewa kos perbulan hanya Rp.470.000, buat PLN dan PAM perbulan, buat biaya sampah dan satpam, semua dari uang itu, untuk biaya aku makan kudapat dari kekasihku, tapi papa ga mau mengerti soal itu.

jadi salahkah jika aku merasa kecewa dan sedih atas kejadian ini? hatiku perih dan sakit atas perlakuan tidak adil yang aku terima selama ini, selama ini aku tersaruk penuh dengan kesulitan namun bahkan orang tuaku satu satunya sama sekali tidak perduli, seandainya aku bisa pergi sendiri aku sudah menghilang dan meninggalkan semua kepedihan ini, lebih baik hidup sendiri drpd hidup seperti ini, karena kalau hidup sendiri ya memang sendiri jadi wajar kalau tidak ada yang memperdulikan karena memang sendiri, tapi ini masih punya orang tua dan adik tapi tetap merasa sebatang kara

Thursday, September 22, 2011

permulaan


Curhatku
Saat ini aku lagi dilemma banget, ada saatnya aku merasa didzolimi oleh papaku sendiri karena ucapan2nya yang bikin aku BT, tapi disaat lain aku berfikir apa aku terlalu berlebihan menganggap semua omongan itu?
Dan sebagai berbandingannya aku akan menuliskan apa saja ucapan papa yang bikin BT, ntah karena kecemburuanku atau karena memang dia memang sengaja bikin aku BT. Namun sebelumnya biar aku cerita sedikit tentang kehidupanku ini.
Kami ditinggal mama pada tahun 1995, 31 desember 1994 pukul 23.00. kepergian mama yang memang dikarenakan sakit parah selama hampir satu tahun benar-benar membuatku terpukul, memang saat itu usiaku sudah hampir 20 tahun dan aku sudah lulus SMA, namun diserahin tugas menjaga seorang adik laki-laki lumayan membuat kakiku berat melangkah.
Sempat satu tahun aku kulian di luar kota, namun karena adikku yang saat itu masih berumur 10 tahun membuat fokusku terpecah antara kuliah dan rumah, semula ku pikir papa bisa mengatasi semuanya tanpa aku, namun ternyata dia lebih sering meninggalkan adikku sendirian di rumah, tak jarang pula aku harus menempuh jarak bandung-jakarta tengah malam naik umum demi menemani adikku yang ditinggal papa.
Sering aku bertanya ke papa kenapa sering ninggalin adikku, namun kebohongan demi kebohongan yang sering aku terima, sampai akhirnya dia mengakui kalau dia sudah menikah lg dan istrinya tinggal di daerah S. terpukul aku mendengar pernyataannya, ditambah lagi aku harus berhenti kuliah di bandung dengan alasan tidak ada biaya dan demi menjaga adikku.
Sempat tiga tahun aku berhenti bertegur sama dengan papa, walau masih tinggal serumah dan aku masih mengurus rumah dan adikku, papa jg masih mencukupi kebutuhan finansial kami semua, namun untuk bertegur sapa atau ngobrol sama sekali aku hindari, hatiku benar-benar hancur saat itu. Sampai akhirnya adikku mulai memberontak dan aku menyadari apabila aku tidak kompak dengan papa maka adikkupun akan semakin tersesat dan keluargaku berantakan.
Aku ingat setiap hari jumat hatiku selalu diisi dengan kekosongan, jumat pagi saat papa mandi mau brangkat kerja, aku selalu Tanya apa pulang atau tidak dan biasanya selalu dijawab dengan tidak, jadi papa dirumahku dari hari senin (kadang selasa) sampai jumat pagi, sedangkan sepulangnya dia bekerja langsung ke rumah istrinya di kota S hingga hari senin atau selasa sore baru pulang.
Hari demi hari hingga tahun terbiasa seperti itu membuatku menjadi terbiasa untuk tidak mengharapkan kehadiran papa lagi di rumah, malah tak jarang aku berharap lebih baik dia tidak usah pulang jadi aku tidak usah sibuk memasak untuk bertiga atau mengurung diri di kamar, aku bisa membawa temen-temanku menginap atau bisa main sepuasnya.
Ternyata semakin tahun tanpa ku sadari adikkupun semakin besar, adik kecil yang dulunya masih bisa diatur dan di didik kini mulai melawan bahkan membantah, ditambah lagi dengan ketertarikan seorang remaja akan keingintahuan yang semakin besar dan lingkungan yang mendukung, maka adikku mulai tertarik kepergaulan bebas, NARKOBA dan MIRAS. Semula aku tak menyadarinya namun semakin lama semakin susah diatur malah apabila aku nasihatin atau omelin, tak jarang kami berakhir dengan bertengkar, sampai main tangan segala, aku yang memang bertubuh cacat dan lebih kecil dari adikku tak jarang mulai menjadi takut, pernah dia sampai menamparku, dan yang terakhir yang bener-bener bikin hatiku hancur saat dia berani mencekikku di depan  papa tanpa papa lerai kami, saat aku bisa melepaskan diri aku Cuma bisa bilang ke papa “seandainya dia (adikku) berani lagi main tangan sama aku jangan harap aku mau mengalah, bisa-bisa salah satu dari kami akan mati karena aku akan membela diri mati-matian walaupun harus masuk penjara.” Setelah mengucap itu di depan papa dan adikku, akupun lgsg meninggalkan rumah untuk berangkat ke toko (saat itu aku masih menjaga toko pulsa). Itulah saat terakhir dia berani main tangan denganku karena mereka tau kl aku sudah ngomong aku tidak main-main.
Hubunganku dengan istri papa tidak bisa dibilang harmonis walau pun tidak juga ada perkelahian, aku masih bisa menghormatinya karena mengingat papa, namun aku juga pernah bilang ke papa, kalau dia baik aku juga bisa baik, tapi seandainya dia nyenggol atau bertingkah denganku, dia malah berharap berhadapan dengan iblis karena balasanku akan lebih sadis drpd iblis. Aku menghindar apabila ada dia di suatu ruangan dan dia pun mengerti maksudku, percakapan kami pun tak lebih dari basa basi.
Lalu tibalah saat yang paling menyakitkan, adikku menikah dan aku harus mengatur semua sendirian, papa sama sekali tidak membantu, demikian juga dengan keluarganya, sampai tiba saat lamaran baru dia datang demikian jg saat mau hari H, dia baru datang saat mau menyerahkan uang kepada pihak keluarga perempuan dan dimalam hari H, banyak orang mengira akulah yang akan dipajang disamping mempelai karena aku pengganti mamaku namun karena melihat gelagat papa maka istrinyalah yang duduk dipelaminan menempati tempat orang tua.
Setelah adikku menikah papa semakin tidak perduli denganku, selain saat itu dia sudah pensiun, dia juga tidak tinggal serumah dengan kami lagi,dia lebih memilih untuk tinggal bersama istri dan kedua anak perempuannya dibandingkan dengan kami, sampai akhirnya ponakanku pun lahir, aku yang memang sudah tidak bekerja lagi, yang mengandalkan biaya hidup dari adikku, kini sudah tidak bisa lagi mengandalkannya karena adikku pindah ke rumah mertuanya, dan papa masih juga tidak perduli untuk membiayai kebutuhan dasarku, sampai akhirnya aku berinisiatif untuk membuka kos-kosan, yang memang ada 3 kamar kosong dan aku sendirian di rumah.
Namun tuhan tidak tidur, dia tau betapa susahnya aku saat itu, walau kamarku yang ditempati Cuma 1 kamar, hanya Rp. 250.000 sebulan pendapatanku, namun tuhan mengutus seorang pria yang sangat baik untuk membantuku dan menjagaku. Semula ketertarikan kami hanya karena azas simbiosis mutualisme, namun hari demi hari bisa kami lewati dengan bunga-bunga cinta yang indah, hanya disayangkan dia sudah memiliki istri dan 3 anak, aku tidak pernah mengharapkan lebih darinya, karena dia sudah memenuhi semua kebutuhanku tanpa aku minta, semula aku yang terpuruk kini mulai bisa bernafas lagi, pelan-pelan pria itu membangunkanku dari keterpurukanku dan dengan indahnya mulai mengisi hari-hari kelamku dengan warna-warna cinta.
Saat itupun keperluan finansial dan kebutuhan tertierku dipenuhi olehnya, aku yang semula hanya bisa berpuasa demi menahan lapar kini menjadi orang yang membuat iri orang lain yang melihatnya, malah tak jarang aku merasakan adikku dan istrinya iri akan apa yang sudah diberikan pria itu kepadaku, namun sesungguhnya aku tidak pernah mengganggap itu semua pemberian darinya aku hanya menganggap barang-barang mewah itu hanyalah pinjaman darinya yang suatu saat akan diambil lagi olehnya, jadi walau mereka iri terhadapku namun aku hanya menganggap biasa saja.
Dan selama 2 tahun lebih papa tidak pernah menjengukku, hanya 1-2x dalam setahun, namun aku sudah tidak perduli lagi, aku mulai terbiasa dengan keadaan ini dan mulai menikmatinya. Meskipun aku dalam keadaan sakit sekalipun aku tetap tidak merasa membutuhkan papa dan adikku karena aku sudah merasa ditinggalkan oleh mereka. Aku menjalani hari-hariku dengan ketenangan dan kedamaian walau tanpa ada keluarga dekat disekelilingku.
Sampai akhirnya kemarin dibulan april, papa pulang dan bilang kl dia sudah bercerai dengan istrinya, istrinya yang minta bercerai karena papa sudah tidak bisa mencukupi kebutuhan finansial mereka, walaupun papa masih dapat uang pensiun dari perusahaan tempat dia pernah bekerja dulu dan beberapa petak kebun dan sawah namun bagi istrinya semua itu tidak cukup. Papa pun kembali lagi dan sejujurnya hal ini tidak membuatku bahagia malah menjadi beban buatku, saat itu memang kamar kosku sudah penuh dan ada pemasukan Rp.720.000/bulan, namun apalah artinya uang segitu disaat sekarang ini? Untuk bea PLN dan PAM, blom lagi iuran RT/RW, bea makan untuk 1 orang saja kurang apalagi berdua, kekasihku dan sahabatku mendesakku untuk minta tambahan dari papa karena aku masih berhak dan papa memang keterlaluan tidak memberiku biaya tambahan, selama dia disini, hingga sekarang ini dipenghujung agustus, hanya 1x papa memberiku tambahan biaya keperluan rumah tangga sebesar Rp.150.000, dan bulan ini karena salah satu anak kos ku harus keluar jadi aku minta supaya papa yang membayar bea PLN karena aku sudah tidak sanggup lagi.
 Demikianlah ringkasan ceritaku tentang masa lalu, mulai saat ini aku akan menceritakan apa saja yang sudah membuatku kesal mengenai ucapan-ucapan papa yang bikin aku BT.


30 Agustus 2011 : tadi saat aku lagi main laptop di depan papa Tanya dengan nada ngotot berapa sebenarnya harga modem, aku bilang kl modem yang GSM dan bisa semua provider mahal bisa satu juta lebih, jadi tergantung merk dan lain2, trus dia bilang kl anak pertamanya yang disana butuh modem karena bisa jadi dalam 1 minggu ada 2x dia ke warnet untuk mengerjakan tugas dari sekolah, dan biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp.30.000 tiap kali ke warnet untuk mengeprint atau browsing, jadi lebih baik pakai modem sendiri jadi anaknya itu bisa patungan ama temen-temennya untuk bli pulsa bulanannya bila ada tugas, ada rasa iri dihatiku, aku ingat dulu aku minta apa pun susahnya ampun2 bahkan saat masih ada alm.mama, sampai akhirnya saat ini aku punya 2 laptop dan fasilitas internet lengkap dari kekasihku jadi aku ga usah ke warnet lagi, karena rasa kesal itu aku balas aja dengan ucapan “ga mungkin dia mau patungan ama temen2nya, yang ada dia ajak temen2nya untuk browsing di rumahnya sambil pamer ‘biar ntar papaku yang bayar bulanannya’.” Papa langsung bantah “ga mungkin dia begitu.” Hah…ibunya aja pengeretan, anaknya jg nular, aku inget banget tahun kemarin pas lebaran juga, papa sangat sulit dihubungi padahal papa pinjam uangku dan aku butuh untuk biaya lebaran, jadi aku harus menghubungi anak pertamanya itu, tapi apa jawaban dia “aku ga ikut campur urusan papa sama kakak, disini juga susah, aku aja blom dibeliin baju baru buat lebaran.” Hah…dia masih mikirin baju baru padahal aku hampir kelaparan. Jadi ngapain aku harus perduli ama dia. Trus papa jg blng kl anaknya aktif di voli dan ada kejuaraan atau apalah yang ga begitu aku perhatikan. Seharusnya dia mikir saat aku seusia anaknya yang 1 disana, SMA kelas 1 aku sudah bisa cari uang sendiri dengan cara buka bimbel. Ga punya otak!!!

23 September 2011 : papa dah mudik k skbm dr 2 minggu yang lalu, tapi masih aja yang bikin aku kesel, dia sms aku nanya soal harga print and modem berkali2 akhirnya aku kasih tau ke kekasihku kl papa nanya itu, kata kekasihku keduanya bisa seharga 900rb,trus dia blng mau jual kebon buat bli itu semua dll, disebutin satu-satu apa yang dia ingin dan sepatah katapun ga ada tersebut ‘ buat poppy, ya allah… berilah kesabaran dan ketabahan buat hambamu ini, kl giliran susah dia disini tapi giliran dia seneng banyak duit lupa ama aku… sumpah perih banget rasanya.